THE GIRL ON THE TRAIN: The next GONE GIRL, they said?



THE GIRL ON THE TRAIN


Paula Hawkins

430 halaman

Goodreads rating: 3,85

Cetakan I, Agustus 2015

Noura Books



---


REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER

   The next Gone Girl, they said. Perlu diketahui gue gak membaca Gone Girl karena udah keduluan nonton filmnya. Jadi gue gak bisa membandingkan The Girl On The Train dengan Gone Girl, yang artinya bagus karena pendapat gue gak akan bias dan gue gak terlalu memasang ekspektasi yang tinggi. Kalaupun ada perbandingan, maka itu perbandingan dengan filmnya. Berdasarkan review-review di goodreads, hampir sebagian besar fans Gone Girl merasa The Girl On The Train gak sebagus karya epic Flynn. Lalu, ini adalah pengalaman pertama gue membaca novel dengan karakter-karakter yang bisa dikatakan sakit jiwa. 

   The Girl On The Train menceritakan Rachel (narator utama) yang setiap hari naik kereta komuter ke London. Saat kereta berhenti di sinyal perlintasan, Rachel selalu memperhatikan rumah nomor lima belas melalui jendela kereta. Ia tidak mengenal suami istri pemilik rumah tersebut namun ia suka membayangkan bagaimana kehidupan mereka, yang kemudian dipanggilnya Jess dan Jason. Menurut Rachel, Jess dan Jason mengingatkan Rachel dengan kehidupan rumah tangganya dulu bersama Tom. Rumah tangga impian yang penuh kebahagiaan. Rachel mengamati mereka selama satu tahun dan menjadi terikat dengan mereka. Oleh karena itu ketika suatu hari ia melihat Jess –yang ternyata bernama asli Megan- berselingkuh dari suaminya, Rachel menjadi sangat marah dan kecewa. Keesokan harinya Megan menghilang. Pada hari hilangnya Megan, Rachel pergi ke Witney dengan niat memberitahu Jason mengenai perselingkuhan istrinya. Namun karena mabuk, ia tidak pernah ingat apa yang terjadi di malam itu. Ternyata apa yang dilupakan Rachel menjadi petunjuk penting menghilangnya Megan. Rachel memutuskan ikut menyelidiki menghilangnya Megan, walaupun dengan begitu ia tidak bisa menghindari wanita yang merebut suaminya, Anna, dengan keluarga kecilnya yang bahagia, kini tinggal di rumahnya yang dulu. Rumah nomor dua puluh tiga, tetangga Megan. 

   The Girl On The Train diceritakan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Pertama, Rachel Watson. Bercerai karena suaminya selingkuh, pengangguran, teman serumah yang jorok, tidak stabil secara emosional, pecandu alkohol selama empat tahun. A very pathetic woman, I must said. Kedua, Anna. Perebut suami Rachel, tidak tahu diri, tipe perempuan yang dibenci oleh seluruh perempuan di dunia. Ketiga, Megan Hipwell. Perempuan yang tidak tahu bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya namun tetap selingkuh. 

   Bagian awal novel, biasa aja. Gue cenderung ingin melewati halaman demi halamannya. Siapa coba yang ingin berada di dalam kepala pecandu alkohol yang masih terobsesi dengan suaminya yang selingkuh! Menurut gue, sebodoh-bodohnya wanita, gak ada yang mau merendahkan dirinya sampai memohon agar suami yang selingkuh dan menceraikannya kembali padanya. Ya, Rachel sebodoh itu. Ampun deh. 

  Menunggu, nunggu, kapan nih kejutannya dimulai? Megan selingkuh, Megan menghilang. Gue mulai tertarik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lalu point of view Anna muncul. Dan fakta-fakta mengejutkan menyeruak. Bisa dikatakan, letak menariknya novel ini ada pada bagian pertengahan ke akhir. Jadi kalau merasa bosan atau gak tahan baca awalnya, harus bersabar. 

 Gue suka banget bagaimana penulis menggiring pembaca untuk membentuk opini mengenai karakter-karater di novel ini, lalu menjungkirbalikan semua opini itu satu demi satu. 

  Paula Hawkins puts all the characters in the worst situation they can get. And then they did the worst to each other. 

   Kelihatan banget kok, bagaimana rapinya rancangan plot novel ini. Semuanya memiliki ketekaitan yang rasional. Tanggal-tanggal, cerita masing-masing karakter, dan bagaimana akhirnya cerita itu menjadi satu. Gak ada faktor kesengajaan yang instan. Seperti eh tiba-tiba karakter A tabrakan dengan karakter B di lorong, B ternyata adalah orang yang selama ini dicari A. Satu-satunya yang mendekati kesengajaan instan adalah pertemuan Rachel dengan lelaki berambut kemerahan (Andy). Ketemu orang asing yang tidak kita kenal sampai tiga kali. Kalau orang Indonesia pasti bilang itu jodoh. Hahaha. Tapi mungkin aja sih ketemu, kalau itu adalah kereta yang sama, yang digunakan orang-orang untuk pulang pergi kerja. 

   Menariknya The Girl On The Train adalah bagaimana kisahnya dimulai. Rachel naik kereta, duduk di samping jendela, dan mengkhayalkan kehidupan orang lain yang dilihatnya melalui jendela itu. Gak ada kerjaan banget ya? Tapi itu dilakukan semua orang loh. Ketika dalam perjalanan dan duduk di samping jendela dengan alat transportasi apapun. Semua orang akan berkhayal. Tentang apapun. 

   Mengenai review dari Kirkus yang mengatakan pembaca paling cerdas pun akan terkejut bla bla bla. Mungkin gue kurang cerdas. Karena gue gak terkejut seheboh itu, gue bahkan cenderung sudah menduganya.

   Di pertengahan ketika Scott (Jason) mengatakan kalau bayi Megan bukanlah bayinya atau bayi Abdic, gue sudah menduga siapa pembunuh Megan. Jelas bangetlah sudah. Megan tukang selingkuh, Tom pernah selingkuh. Megan dan Tom tetanggaan. Ada point of view Anna dan keyakinan gue bahwa Anna tidak boleh bahagia. Karma happens. Dugaan itu yang membuat gue bersemangat membaca dari pertengahan ke akhir. Untuk membuktikan kalau gue bener. Hahaha. 

  Gue sedikit berharap ada plot twist seheboh Gone Girl (plot twist filmnya aja seheboh itu, bayangkan kalau gue berkesempatan membaca novelnya). The Girl On The Train cuma menyediakan twist kecil-kecilan. 

  Untuk ukuran thriller dengan ciri khas karakter sakit jiwa. The Girl On The Train cukup menarik sampai gue mempertimbangkan untuk rajin-rajin melirik genre thriller. Genre ini menjanjikan kisah-kisah yang mindblowing. 

   Kabarnya The Girl On The Train akan difilmkan dan tayang tahun 2016 mendatang. Emily Blunt sebagai Rachel Watson. Kalau pernah nonton Edge of Tomorrow, Emily Blunt adalah Angel of Verdun “Full Metal Bitch” wanita petarung tangguh yang telah membunuh ratusan alien. Interesting rite? Di Edge of Tomorrow, gue suka banget sama karakter dia. Lalu Tom Watson akan diperankan oleh Chris Evans. Masih rumor sih. Tapi, OH SHIT! Kan ceritanya Tom Watson ini tukang selingkuh. Walaupun gak dideskripsikan fisiknya dewa Yunani banget (gak penting itu), ada hints-hints yang menunjukkan Tom adalah karakter yang ganteng dan menarik. Ya tukang selingkuh harus ridiculously handsome lah ya. Dan menurut gue, kalau Dreamworks mau filmnya booming, mereka harus bisa dapetin Chris Evans. Nanti kan dibanding-bandingkan lagi dengan Gone Girl. Dari segi cerita, Gone Girl lebih unggul. Nah kalau Ben Affleck versus Chris Evans, mending Chris Evans kemana-mana. Edward Cullen yang vampir aja masih gantengan Chris Evans versi manusia. 

Nah lo. Bay!




BONUS!!!!! 


Kesimpulan
 
Unic, interesting, and gone girl-ing. LOL. Not that bad, still, It’s worth your money. 


RATING



QUOTE


Kehampaan: yang kupahami. Aku mulai percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Itulah yang kupelajari dari sesi-sesi terapi: lubang-lubang dalam hidupmu bersifat permanen. Kau harus tumbuh di sekeliling lubang-lubang itu, seperti akar-akar pohon yang mengitari beton; kau membentuk dirimu sendiri melalui celah-celahnya. - Megan 

Post a Comment

2 Comments

  1. suka banget review nya, rapih :D

    ReplyDelete
  2. I have to recommend reading the book The Girl on the Train: A Novel.
    I finished reading it today, and my conclusion is that its a very good book.

    ReplyDelete